Gorontalo - Kunjungan kerja yang dilakukan oleh FSPPG (Federasi Serikat Pekerja Panasonic Gobel) bersama Koperasi Karyawan (Kopkar) Gobel ke Gorontalo bukan sekadar agenda organisasi biasa. Kegiatan ini memiliki makna historis, filosofis, dan strategis yang merefleksikan perjalanan panjang Grup Gobel dalam mengabdi kepada bangsa selama lebih dari tujuh dekade.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Almarhum Drs. Th. Muhammad Gobel dan Almarhumah Hj. Aninento Gobel, sosok visioner yang meletakkan fondasi lahir dan berkembangnya perusahaan Gobel di Indonesia. Ziarah tersebut juga dilakukan ke makam H. Nani Wartabone, Proklamator Gorontalo yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan simbol keberanian rakyat Gorontalo dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa.
Dalam perspektif sosiologis dan organisasi modern, ziarah tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penghormatan kepada para pendahulu. Ia merupakan proses membangun institutional memory atau memori kelembagaan yang berfungsi menjaga kesinambungan nilai, budaya, dan identitas organisasi lintas generasi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa organisasi yang mampu menjaga hubungan antara sejarah, nilai, dan inovasi memiliki daya tahan (organizational resilience) yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan zaman.
Momentum ini juga menjadi bentuk rasa syukur atas perjalanan "7 Decade Gobel Mengabdi untuk Negeri". Selama lebih dari 70 tahun, Gobel tidak hanya dikenal sebagai pelaku industri elektronik nasional, tetapi juga sebagai institusi yang turut berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, penguatan industri nasional, dan pengembangan masyarakat.
Semangat pengabdian tersebut kemudian diterjemahkan dalam langkah-langkah konkret melalui penjajakan berbagai kerja sama ekonomi dan sosial di Gorontalo. FSPPG dan Kopkar Gobel melakukan kunjungan ke berbagai pusat pengembangan ekonomi masyarakat, antara lain Desa Kacang, Desa Coklat, PT Agit, serta berbagai inisiatif pemberdayaan yang selama ini dibangun dan dikembangkan oleh Rachmat Gobel.
Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan tidak dapat hanya bertumpu pada investasi modal semata, tetapi harus berbasis pada pemberdayaan masyarakat lokal, penguatan rantai nilai (value chain), dan pengembangan kewirausahaan berbasis potensi daerah. Model pembangunan seperti ini sejalan dengan konsep inclusive growth yang saat ini menjadi paradigma pembangunan modern, yaitu pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan manfaat yang merata bagi masyarakat.
Bagi Kopkar Gobel, penjajakan kerja sama ini membuka peluang lahirnya model kemitraan baru antara koperasi pekerja dengan komunitas produktif di daerah. Koperasi tidak lagi hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi berkembang menjadi motor penggerak ekonomi anggota dan masyarakat melalui penguatan jaringan usaha, pemasaran, dan investasi sosial.
Salah satu agenda yang paling strategis dalam kunjungan tersebut adalah peninjauan langsung ke Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Gorontalo. Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membangun sinergi antara BPVP Gorontalo, Panasonic Gobel, dan BLKK Teknik Pendingin FSPPG dalam upaya memperkuat pembangunan sumber daya manusia di Gorontalo.
Dalam era transformasi industri dan persaingan global, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penentu daya saing suatu daerah maupun bangsa. Bank Dunia, ILO, dan berbagai lembaga internasional menegaskan bahwa investasi pada pendidikan vokasi dan pelatihan berbasis kebutuhan industri merupakan salah satu strategi paling efektif untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi antara dunia industri, lembaga pelatihan, dan organisasi pekerja sebagaimana yang dirintis dalam kunjungan ini merupakan contoh nyata pendekatan triple helix collaboration, yaitu sinergi antara sektor industri, lembaga pendidikan dan pelatihan, serta masyarakat. Pendekatan tersebut terbukti mampu menghasilkan tenaga kerja yang lebih kompeten, adaptif, dan siap menghadapi kebutuhan pasar kerja masa depan.
Lebih dari itu, inisiatif ini juga mencerminkan semangat pembangunan yang diwariskan oleh para pendiri Gobel: membangun manusia sebelum membangun bisnis. Filosofi tersebut menjadi semakin relevan di tengah tantangan bonus demografi Indonesia, di mana kualitas SDM akan menentukan apakah bonus demografi menjadi berkah atau justru beban pembangunan.
Pada akhirnya, kunjungan kerja FSPPG dan Kopkar Gobel ke Gorontalo bukan hanya perjalanan organisasi, melainkan perjalanan nilai. Sebuah perjalanan yang menghubungkan warisan para pendiri, semangat perjuangan para pahlawan daerah, penguatan ekonomi masyarakat, serta investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.
Dari makam para pendahulu hingga ruang-ruang pelatihan vokasi masa depan, tersambung satu benang merah yang sama: pengabdian kepada negeri. Sebab sejatinya, warisan terbesar sebuah organisasi bukanlah gedung atau teknologi yang dimilikinya, melainkan nilai-nilai yang terus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat lintas generasi.
Tujuh dekade Gobel mengabdi untuk negeri bukanlah akhir sebuah perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk menyiapkan generasi Indonesia yang lebih kompeten, produktif, dan berdaya saing global.